STUDI HADIST TENTANG ISRA MIRAJ
Materi ini sebagai kelanjutan dari studi hadist dengan Al-quran sebagai pedomannya. tujuan dari pembahasan ini adalah agar seluruh ummat Islam dapat memilah sunnah-sunnah yang bisa dijadikan sandaran hukum sehingga tidak menjerumuskan ummat pada kekeliruan yang resikonya amat sangat membahayakan diri dan orang lain.
Oleh karena itu kita perlu menelaah sunnah-sunnah yang selama ini beradar di masyarakat Islam dan sudah diyakini sebagai sesuatu yang hak karena diriwayatkan dengan sanad hadits yang oleh sebahagian besar ulama hadits sebagai hadits “sahih”, namun setelah ditelaah isi atau redaksi hadits tersebut banyak yang tidak sejalan dengan Al-Qur’an.
Mengapa harus Al-Qur’an sebagai standarisasi…? Karena Al-qur’an adalah prilaku Rasulullah SAWW, karena segala ucapan, perbuatan dan diamnya Rasulullah SAWW adalah wahyu sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah.
QS. 53 (An-Najm): 3 – 4
Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.
Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).
Dengan tegas dan jelas Allah menyatakan melalui firman-Nya bahwa apa yang diucapkan, apa yang diperbuat serta diamnya Al-Musthofa Rasulullah SAWW bukanlah mengikuti hawa nafsu yang dipengaruhi oleh syetan, akan tetapi senantiasa didasarkan pada “Wahyu” yang disampaikan kepada Beliau.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawuud, Ahmad dan lain-lain dijelaskan sebagai berikut:
UKTUB.! FAWALLADZII NAFSII BIYADIHI MAA KHOROJA MINNI ILLA HAQQUN.
Artinya: Tulislah ! Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya! Tidak keluar dariku melainkan kebenaran.
Oleh karena itu kita perlu memeriksa kebenaran suatu hadits. Kita tidak menyangsikan bahwa apa yang keluar dari diri pribadi Rasulullah SAWW adalah kebenaran yang dapat dibuktikan. Dan sebagai alat pembuktinya adalah Kitab suci Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an adalah Akhlaq Rasulullah SAWW, karena Al-qur’an adalah prilaku Rasulullah SAWW, karena Rasulullah SAWW adalah Al-Qur’an yang berjalan.
Pada materi ini kita akan menelaah sebuah hadits yang terdapat dalam kitab hadits “SHAHIH BUKHARI” Cetakan Ketigabelas 1992, diterbitkan oleh Penerbit ”Widjaya” Jakarta. Jilid I, Hadits no. 211 riwayat Anas bin Malik.Hadits. hadits tersebut mengkisahkan perihal Peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia,
dan kita akan memuat Hadist riwayat Muslim, yaitu hadits yang terdapat dalam kitab hadits “Sahih Muslim” Cetakan kelima 1997, diterbitkan oleh KLANG BOOK CENTRE Malaysia. Hadits no. 134 riwayat Anas bin Malik.Hadits no. 137 riwayat Abu Dzar Al-Ghifaari dan hadits no. 138 riwayat Malik bin Sha’sha’ah. Ketiga hadits tersebut mengkisahkan perihal Peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, salah satunya yang kami kutif dalam pembahasan ini adalah hadits Hadits no. 134 riwayat Anas bin Malik.
Dari anas bin Malik r.a. katanya Rasulullah SAW. Bersabda: “Jibril membawakan kepadaku seekor “Buraq” yaitu sejenis hewan berwarna putih, lebih panjang dari keledai dan lebih pendek daripada baghal. Ia dapat melompat sejauh mata memandang. Hewan itu lalu kutunggangi sampai ke Baitul Makdis. Sampai di sana hewan itu kutambatkan di tambatan yang biasa digunakan para Nabi. Kemudian aku masuk ke dalam masjid dan shalat di situ dua raka’at. Setelah aku keluar. Jibril datang membawa dua bejana , yang satu berisi khamar dan yang satu lagi berisi susu. Aku memilih susu. Kata Jibril”Anda memilih yang benar.” Kemudian kami dibawa ke langit. Lalu Jibril meminta supaya dibukakan pintu. Jibril ditanya, “Anda siapa?” Sahut Jibril, “Aku Jibril!” Tanya “Siapa bersama Anda?” Jawab: “ Muhammad !” Tanya: “Sudah diutuskah dia (menjadi Rasul)?” Jawab: “Ya benar! Dia sudah diutus!” Setelah itu barulah pintu dibukakan untuk kami. Sekonyong-konyong aku berjumpa dengan Adam. Beliau mengucapkan “Selamat Datang “ kepadaku serta mendoakanku semoga beroleh kebaikan. Kemudian kami naik ke langit kedua. Jibril a.s minta dibukakan pula pintu. Lalu dia ditanya, “Siapa Anda?.” Jibril menjawab, “Aku Jibril!” Tanya: “siapa bersama anda?” Jawab: “Muhammad!” Tanya: “Apakan dia sudah diutus?” Jawab: “Ya , dia sudah diutus!” Setelah itu barulah pintu dibuka untuk kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan dua orang anak dan paman , yaitu ‘Isa anak Maryam dan Yahya bin Zakaria ‘alaihimas salam. Keduanya mengucapkan “Selamat Datang” kepadaku serta mendoakan semoga aku beroleh kebaikan. Kemudian aku dibawa lagi naik ke langit ketiga. Jibril minta dibukakan pula pintu. Dia ditanya.” Siapa Anda?” Jawab: “Aku Jibril!” Tanya: “ siapa bersama anda?” Jawab: “Muhammad Saw.!” Tanya: “Apakah dia sudah diutus?” Jawab: “Ya sudah diutus!” Lalu pintu dibukakan bagi kami. Sekonyong-konyong aku bertemu dengan nabi Yusuf as. Yang kecantikannya seperdua dari kecantikan yang ada. Dia mengucapkan selamat datang kepadaku, dan mendoakan semoga aku beroleh kebaikan. Sesudah itu kami dibawa ke langit keempat. Jibril a.s minta supaya dibukakan pula. Dia ditanya: Siapa Anda?” Jawab; “Aku Jibril!” Tanya, “Siapa bersama Anda?” Jawab, “Muhammad Saw.” Tanya: “Apakah dia sudah diutus.” Jawab:” ya, dia sudah diutus.” Setelah itu barulah pintu dibukakan untuk kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Idris a.s. Dai mengucapkan selamat datang kepadaku, serta mendoakan semoga aku beroleh kebaikan. Firman Allah: “Kami naikkan dia (idris) ke tempat yang tinggi” (Maryam: 57). Kemudian kami naik kelangit kelima. Jibril a.s minta dibukakan pintu. Dia ditanya, “Siapa Anda?” Jawab, “Aku Jibril!” Tanya: “Siapa bersama Anda?” Jawab: “Muhammad saw.” Tanya: “Apakan dia sudah diutus?” Jwab: “Ya, dia sudah diutus” Setelah itu pintu dibukakan untuk kami. Sekonyong-konyong aku bertemu dengan Harun as. Dia mengucapkan selamat datang kepadaku, dan mendoakan semoga aku mendapat kebaikan. Kemudian kami naik ke langit ke enam. Lalu Jibril minta dibukakakan pintu. Dia ditanya, “Siapa anda?” Jawab:”Aku Jibril.” Tanya: “Siapa bersaman Anda?” Jawab: “Muhammad!” Tanya: “apakah dia sudah diutus?” Jawab: ”Ya, dia sudah diutus.” Sesudah itu barulah pintu dibukakan untuk kami. Sekonyong-konyong aku bertemu dengan Musa a.s. Dia mengucapkan selamat datang kepadaku, dan mendoakan semoga aku mendapat kebaikan. Kemudia kami naik ke langit ketujuh. Jibril minta dibukakan pula pintu. Dia ditanya, “ Siapa Anda?” Jawab: “Aku Jibril.” Tanya: “ Siapa bersama Anda?” Jawab: “Muhammad saw.” Tanya: “Apakah dia sudah diutus?” Jawab: “Ya, dia sudah diutus.” Sesudah itu, lalu pintu dibuka untuk kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Ibrahim a.s sedang bersandar di Baitul Ma’mur, di mana 70.000 malaikat setiap hari masuk ke dalamnya dan mereka tidak pernah kembali lagi dari situ. Kemudian Jibril membawaku ke Sidratul Muntaha, mendapatkan sebatang pohon yang daunnya seperti telinga gajah, dan buahnya sebesar kendi. Setiap kali ia tertutup dengan kehendak Allah, ia berubah sehingga tidak satupun makhluk Allah yang sanggup mengungkapkan keindahannya. Lalu Allah menurunkan wahyu kepadaku, mewajibkan shalat 50 kali sehari semalam, sesudah itu aku turun ke tampat Musa a.s. Musa bertanya, Apakah yang telah diwajibkan Tuhanmu kepada umatmu?” Jawabku, “Shalat 50 kali.” Kata Musa.” Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan, karena umatmu tidak akan sanggup melakukannya. Aku sendiri telah mencoba kepada Bani Israil.” Kata Nabi saw. “ Aku kembali kepada Tuhanku, lalu kau memohon, “ Ya Tuhan ! Berilah umatku keringanan!” maka Allah menguranginya lima.” Sesudah itu aku kembali kepada Musa. Kataku, “Allah menguranginya lima.” Kata Musa, “Umatmu tidak akan sanggup menunaikannya sebanyak itu, karena itu kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan.” Kata nabi saw selanjutnya, “ Aku jadi bewrulang ulang pulang pergi antara Tuhanku Tabaraka wata’ala dengan Musa, sehingga akhirnya Allah berfirman:” Kesimpulannya ialah shalat lima kali sehari semalam. Bagi tiap-tiap satu kali shalat, sama nilainya dengan sepuluh shalat; maka jum;lah nilainya 50 juga. Dan siapa yang bermaksud hendak berbuat kebajikan, tetapi tidak dilaksanakannya, dituliskan untuknya (fahala) sepuluh kebajikan. Dan siapa bermaksud hendak berbuat kejahatan, tetapi tidak dilaksanakannya , tidak akan ditulis apa-apa baginya. Tetapi jika dilaksanakannya, maka ditulis baginya balasan satu kejahatan. Sesudah itu aku turun kembali ke tempat Musa a.s, lalu ku ceritakan kepadanya apa yang difirmankan Tuhanku itu. Kata Musa, kembalilah pada Tuhanmu, dan mintalah keringanan .” Jawab Rasulullah saw., “Aku telah berulang kali kembali kepada Tuhanku meminta keringanan, sehingga aku malu kepada-Nya.
Kita mengimani dan meyakini bahwa peristiwa isra’ dan mi’raj yang dialami oleh imam suci Rasulullah SAWW adalah benar-benar telah terjadi. Dalam peristiwa tersebut Rasulullah SAWW berangkat dari Masjidil Haram (Makkah) ke Masjidil Aqsha di Palestina dengan mengendarai “Buraq” dan dikawal oleh malaikat Jibril as. sebagaimana difirmankan dalam Al-Qur’an surat 17 (Al-Isra’):1 : Maha Suci Allah, yang Telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang Telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya dia adalah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.
Kemudian Rasulullah mi’raj menuju langit pertama sampai langit ketujuh masih dengan kendaraan “Buraq” dan dikawal oleh MalaikatJIbril as. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur’an surat 70 (Al-Ma’rij): 4
Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.
Kunjungan Rasulullah SAWW dilanjutkan sampai “Shidrotul Muntaha” kemudian ke Arsy berjumpa dengan Allah SWT yang kemudia menerima wahyu (perintah shalat bagi ummat Rasulullah SAWW). Dan inipun dijelaskan dalam Al-Qur’an surat 53 (An-Najmi): 1 – 18 :
1. Demi bintang ketika terbenam.
2. Kawanmu (Muhammad Rasulullah) tidak sesat dan tidak pula keliru.
3. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.
4. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).
5. Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat.
6. Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli.
7. Sedang dia berada di ufuk yang Tinggi.
8. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi.
9. Maka jadilah dia dekat (pada Muhammad Rasulullah sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi).
10. Lalu dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad Rasulullah) apa yang Telah Allah wahyukan.
11. Hatinya tidak mendustakan apa yang Telah dilihatnya.
12. Maka apakah kaum (musyrik Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang Telah dilihatnya?
13. Dan Sesungguhnya Muhammad Telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain,
14. (yaitu) di Sidratil Muntaha.
15. Di dekatnya ada syurga tempat tinggal,
16. (Muhammad Rasulullah melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.
17. Penglihatannya (Muhammad Rasulullah) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya.
18. Sesungguhnya dia Telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.
Setelah menelaah hadits-hadits tersebut di atas yang menjelaskan tentang peristiwa ”Isra’ dan mi’raj” yang dialami Al_Musthofa Rasulullah SAWW, terdapat banyak sekali kisah-kisah yang justru menimbulkan tanda tanya besar dan tidak bisa kita terima, mengapa..? karena didalam hadits-hadits tersebut terdapat kisah-kisah yang sangat membahayakan aqidah ummat Islam. Didalam hadits-hadits tersebut terdapat kisah yang memfitnah Allah, memfitnah Rasulullah SAWW dan memfitnah malaikat Jibril, hadits-hadits tersebut dianggap benar dan diyakini oleh sebagian besar ummat Islam.
Yang manakah kisah yang dimaksud…? Mari kita simak Hadits no. 134 riwayat Anas bin Malik.
Kemudian aku masuk ke dalam masjid dan shalat di situ dua raka’at. Setelah aku keluar. Jibril datang membawa dua bejana , yang satu berisi khamar dan yang satu lagi berisi susu. Aku memilih susu. Kata Jibril”Anda memilih yang benar.”
Pertama : Setelah membaca kisah di atas timbul beberapa pertanyaan yang amat mendasar, yang pertama apakah benar Jibril membawakan Khamar dan susu kepada Muhammad Rasulullah SAWW? Yang kedudukan beliau sudah diangkat sebagai Rasul Rahmatan lil alamin, kalaupun Jibril hendak menjamu Rasulullah SAWW. Apakah layak khamar disajikan kepada Imam Suci Rasulullah SAWW, hamba pilihan Allah dan manifestasi diri Allah ta’ala sendiri..?. Jika apa yang dilakukan oleh Jibril adalah untuk menguji kebenaran Rasulullah SAWW. dalam memilih mana minuman yang terbaik bagi kesehatan manusia, apakah pantas malaikat Jibril mengetes Rasulullah SAWW yang maqom dan kedudukannya lebih tinggi dan lebih mulia dari Jibril..??. Apapun yang dijadikan alasan tentang mengapa Jibril as. menyediakan khamar bagi Rasulullah SAWW. adalah tidak bisa diterima.
Bukankah jiwa rasulullah selalu terdidik oleh Allah, bahkan sebelum diutus kebumi namanya sudah diumumkan oleh Allah, juga Rasulullah adalah pemimpin nabi-nabi.
Kedua :
Kemudian kami dibawa ke langit. Lalu Jibril meminta supaya dibukakan pintu. Jibril ditanya, “Anda siapa?” Sahut Jibril, “Aku Jibril!” Tanya “Siapa bersama Anda?” Jawab: “ Muhammad !” Tanya: “Sudah diutuskah dia (menjadi Rasul)?” Jawab: “Ya benar! Dia sudah diutus!” Setelah itu barulah pintu dibukakan untuk kami. Sekonyong-konyong aku berjumpa dengan Adam. Beliau mengucapkan “Selamat Datang “ kepadaku serta mendoakanku semoga beroleh kebaikan. Kemudian kami naik ke langit kedua. Jibril a.s minta dibukakan pula pintu. Lalu dia ditanya, “Siapa Anda?.” Jibril menjawab, “Aku Jibril!” Tanya: “siapa bersama anda?” Jawab: “Muhammad!” Tanya: “Apakan dia sudah diutus?” Jawab: “Ya , dia sudah diutus!” Setelah itu barulah pintu dibuka untuk kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan dua orang anak dan paman , yaitu ‘Isa anak Maryam dan Yahya bin Zakaria ‘alaihimas salam. Keduanya mengucapkan “Selamat Datang” kepadaku serta mendoakan semoga aku beroleh kebaikan. Kemudian aku dibawa lagi naik ke langit ketiga. Jibril minta dibukakan pula pintu. Dia ditanya.” Siapa Anda?” Jawab: “Aku Jibril!” Tanya: “ siapa bersama anda?” Jawab: “Muhammad Saw.!” Tanya: “Apakah dia sudah diutus?” Jawab: “Ya sudah diutus!” Lalu pintu dibukakan bagi kami. Sekonyong-konyong aku bertemu dengan nabi Yusuf as. Yang kecantikannya seperdua dari kecantikan yang ada. Dia mengucapkan selamat datang kepadaku, dan mendoakan semoga aku beroleh kebaikan. Sesudah itu kami dibawa ke langit keempat. Jibril a.s minta supaya dibukakan pula. Dia ditanya: Siapa Anda?” Jawab; “Aku Jibril!” Tanya, “Siapa bersama Anda?” Jawab, “Muhammad Saw.” Tanya: “Apakah dia sudah diutus.” Jawab:” ya, dia sudah diutus.” Setelah itu barulah pintu dibukakan untuk kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Idris a.s. Dai mengucapkan selamat datang kepadaku, serta mendoakan semoga aku beroleh kebaikan. Firman Allah: “Kami naikkan dia (idris) ke tempat yang tinggi” (Maryam: 57). Kemudian kami naik kelangit kelima. Jibril a.s minta dibukakan pintu. Dia ditanya, “Siapa Anda?” Jawab, “Aku Jibril!” Tanya: “Siapa bersama Anda?” Jawab: “Muhammad saw.” Tanya: “Apakan dia sudah diutus?” Jwab: “Ya, dia sudah diutus” Setelah itu pintu dibukakan untuk kami. Sekonyong-konyong aku bertemu dengan Harun as. Dia mengucapkan selamat datang kepadaku, dan mendoakan semoga aku mendapat kebaikan. Kemudian kami naik ke langit ke enam. Lalu Jibril minta dibukakakan pintu. Dia ditanya, “Siapa anda?” Jawab:”Aku Jibril.” Tanya: “Siapa bersaman Anda?” Jawab: “Muhammad!” Tanya: “apakah dia sudah diutus?” Jawab: ”Ya, dia sudah diutus.” Sesudah itu barulah pintu dibukakan untuk kami. Sekonyong-konyong aku bertemu dengan Musa a.s. Dia mengucapkan selamat datang kepadaku, dan mendoakan semoga aku mendapat kebaikan. Kemudia kami naik ke langit ketujuh. Jibril minta dibukakan pula pintu. Dia ditanya, “ Siapa Anda?” Jawab: “Aku Jibril.” Tanya: “ Siapa bersama Anda?” Jawab: “Muhammad saw.” Tanya: “Apakah dia sudah diutus?” Jawab: “Ya, dia sudah diutus.” Sesudah itu, lalu pintu dibuka untuk kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Ibrahim a.s sedang bersandar di Baitul Ma’mur.
Kisah tetang naiknya Rasulullah SAWW dengan kendaraan Buraq dan dikawal oleh malaikat Jibril kemudian berjumpa dengan nabi-nabi dan berdialog dengan Rasulullah SAWW. bisa diterima dan dapat dibenarkan. Tetapi kisah yang menyatakan bahwa penjaga langit pertama sampai langit ketujuh bertanya “Siapa Anda.? Siapa yang beserta anda? Apakah dia sudah diutus ? jelas-jelas tidak bisa diterima dan tidak bisa dibenarkan, mengapa…? Argument yang dapat kita berikan adalah:
1. Bahwa penjaga pintu langit pertama sampai ketujuh adalah para malaikat, sedangkan yang datang dan meminta dibukakan pintu adalah pimpinannya para malaikat yaitu Jibril as. apakah malaikat penjaga langit tidak mengenal siapa yang datang sehingga dia bertanya siapa anda? Lantas jibril menjawab “Aku Jibril. Hanya anak buah yang yang bodoh yang tidak mengenali pimpinannya.
2. Kedudukan Rasulullah yang dimuliakan dan cintai oleh Allah telah dipublikasikan oleh Allah kepada seluruh makhluk diseluruh alam, baik di alam nyata maupun alam ghoib termasuk para malaikat. Dengan adanya petanyaan siapa yang beserta anda? Dijawab Jibril:’Muhammad SAW.” Apakah dia sudah diutus menjadi rasul ? dijawab Jibril: “Ya, dia sudah diutus” hal ini mengisyaratkan bahwa para malaikat penjaga langit kesatu sampai ketujuh tidak mengenal Imam Suci Rasulullah SAW dan mereka belum tahu bahwa beliau sudah diangkat menjadi utusan Allah, padahal jauh sebelum peristiwa isra’ dan mi’raj berlangsung Al-Musthofa Muhammad Rasulullah SAWW telah ditetapkan sebagai pemimpin nabi-nabi dan rasul-rasul. Yang kedudukan Rasulullah lebih tinggi dari pada para semua makhluk Allah termasuk malaikat, yang namanya telah Allah Umumkan kepada semua Makhluk (termasuk Malaikat) jauh sebelum Muhammad Rasulullah diutus.
Pertanyaan para malaikat penjaga langit tersebut mengisyaratkan bahwa Allah yang Maha Merencanakan segala sesuatu dengan jelas dan sempurna tidak melakukan koordinasi secara baik kepada para malaikat-malaikatnya, sehingga malaikat penjaga langit tidak tahu kalau Allah akan mengundang kekasih-Nya untuk berjumpa disinggasana yang agung.
Siapakah yang salah…? Allah Swt yang mengutus Jibril…?, para malaikat penjaga langit….?, Rasulullah yang menceritakan isra’ wal mi’raj kepada umat…? atau yang meriwayatkan dan menulis hadits tersebut…? Siapakah yang bodoh, Allah Swt yang mengutus Jibril …?, para malaikat penjaga langit…?, Jibril yang tidak becus mengatur anak buahnya..? Rasulullah yang menceritakan isra’ wal mi’raj kepada umat..? atau yang meriwayatkan dan menulis hadits tersebut…?.
Allah, Rasulullah SAWW dan para malaikat tidak mungkin salah dan tidak mungkin bodoh.
Ketiga :
Kisah tentang Rasulullah SAWW menerima perintah shalat langsung dari Allah adalah benar dan wajib diyakini. Akan tetapi tidak benar dan tidak bisa diterima apabila dikisahkan dan diriwayatkan bahwa Rasulullah menerima perintah shalat sebanyak 50 waktu dan Rasulullah SAWW dinasihati oleh nabi Musa as bahwa ummat Rasulullah SAWW. tidak akan mampu melaksanakananya, kemudian Musa as menasihati agar Rasulullah SAWW kembali untuk melakukan negosiasi kepada Allah agar perintah shalat dikurangi, Rasulullah SAWW pun melaksanakan nasihat nabi Musa as. Rasulullah SAWW beberapa kembali bernego sampai-merasa malu kepada Allah sehingga ditetapkanlah menjadi 5 waktu shalat.
Mengapapa kita tidak boleh menerima dan tidak membenarkan riwayat tersebut.? Yang menjadi dasar penolakan kita adalah:
1. Pada kisah dalam hadits tersebut di atas seakan-akan Allah tidak mengetahui batas kemampuan manusia, sehingga Allah memberikan perintah shalat 50 waktu. Jika demikian maka Allah telah menzhalimi manusia.
Hal ini bertentangan dengan Firman Allah dalam Al-Qur’an surat 2 (Al-Baqarah): 286: ”Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
Pada hadits tersebut di atas seakan-akan nabi Musa as lebih memamahi tentang batas kemampuan ummat Rasulullah ketimbang Rasulullah SAWW sendiri, seakan-akan martabat dan kepandaian nabi Musa as berada di atas Rasulullah SAWW sehingga berani-beraninya nabi Musa menasihati Rasulullah SAWW. bukankah Rasulullah SAWW sebagai imam/pimpinannya para nabi dan rasul-rasul…? Bagaimana mungkin nabi Musa as berani menasehati Rasulullah SAWW, sedangkan yang membenarkan ajaran nabi-nabi terdahulu termasuk nabi Musa as. adalah Rasulullah SAWW. dan ini memfitnah Rasulullah. Ini merupakan penghinaan terhadap pribadi Rasulullah. SAWW (Pemimpin Ulul Azmi).
2. Kisah yang lebih tidak bisa kita terima lagi adalah tatkala dinyatakan bahwa Rasulullah SAWW mengikuti nasihat nabi Musa as. sehingga melakukan tawar-menawar kepada Allah sehingga waktu shalat dikurangi dari 50 menjadi 5 waktu.
Bagi mereka yang mengimani kisah ini dan masih hidup di dunia hendaknya segera berkoreksi, karena mereka telah mengimani kisah yang keliru, tanpa sadar mereka telah memfitnah Allah seakan-akan Allah salah dalam memilih Rasulullah menjadi pemimpin nabi-nabi dan rasul-rasul dan salah dalam menetapkannya sebagai nabi penutup, karena Rasulullah masih berani tawar-menawar terhadap tugas yang harus disampaikan kepada umat. Padahal salah satu sifat Rasulullah SAWW yang dijelaskan dalam Al-qur’an surat 5 (Al-Maidah) ayat 7 adalah: ”Dan ingatlah karunia Allah kepadamu dan perjanjian-Nya yang Telah diikat-Nya dengan kamu, ketika kamu mengatakan: “Kami dengar dan kami taati”. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah mengetahui isi hati(mu).”
Itulah sifat Rasulullah dan orang-orang yang beriman, mereka senatiasa sami’na wa atho’na (kami dengar dan kami taati), bukan kami dengar tapi kami tawar-tawar. Hanya orang yang tidak berharap syafaat Rasulullah yang berani menyatakan bahwa Rasulullah SAWW bolak-balik tawar menawar dengan Allah.
Siapakah yang salah…? Allah Swt yang mengutus Jibril…?, para malaikat penjaga langit….?, Rasulullah yang menceritakan isra’ wal mi’raj kepada umat…? atau yang meriwayatkan dan menulis hadits tersebut…? Siapakah yang bodoh, Allah Swt yang mengutus Jibril…?, para malaikat penjaga langit…?, Rasulullah yang menceritakan isra’ wal mi’raj kepada umat..? atau yang meriwayatkan dan menulis hadits tersebut…?.
Allah, Rasulullah SAWW dan para malaikat tidak mungkin salah dan tidak mungkin bodoh.
Mungkin ada sebahagian saudara-saudara kami kaum muslimin yang merasa keberatan dengan pernyataan ini, mereka keberatan karena kami tidak sefaham dengan mereka dan kami mempersalahkan orang-orang yang meriwayatkan dan menuliskan kisah tersebut apalagi periwayat dan penulis kisah tersebut adalah ulama besar yang diakui dalam dunia Islam.
Para ikhwan sekalian yang kami cintai ….!
Setiap Ulama adalah tidak maksum (sempurna), Yang Sempurna adalah Ahlul Byt Baginda Rasulullah Saww (QS al-ahzab 33), karena Rasulullah SAWW adalah sempurna, senantiasa di bimbing oleh wahyu Allah dalam setiap perkataan dan perbuatan dan diamnya.
Sungguh aneh bin ajaib…Ketika ada ulama yang Memberikan fatwa/tulisan/mengucapkan yang tidak sesuai dengan Quran bahkan berpotensi menyesatkan ummat dikritisi banyak saudara kita, kaum muslimin tidak terima bahkan sibuk membela ulama tersebut. Tetapi tatkala Rasulullah SAWW yang telah mewariskan mu’jizat Al-Qur’an dan pemberi syafa’at dihina, difitnah dan dideskreditkan mereka diam saja.
Keempat : Kedudukan Al-Quran
Di dalam QS.Al-Baqarah/2 : 2 : ”Kitab (Al Quran) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”
Di dalam QS.Al-Baqarah/2 : 91
”Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kepada Al Quran yang diturunkan Allah,” mereka berkata: “Kami Hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami”. dan mereka kafir kepada Al Quran yang diturunkan sesudahnya, sedang Al Quran itu adalah (Kitab) yang hak; yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah: “Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman?”
Jadi dalam ayat ini jelas bahwa Alqur’an adalah kitab yang paling nyata dan tidak ada keraguan didalammnya, dan Tidak sedikit ayat Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa Al-Qur’an mengandung berkah dan hikmah, ini merupakan isyarat bahwa kita harus benar-benar mempelajari, memahami dan mentadaburi Al-Qur’an. Dan Marilah kita meluruskan Hadist-hadist yang tidak senafas dengan Al-quran,
Kesimpulannya, Hadits no. 134 riwayat Anas bin Malik.Hadits no. 137 riwayat Abu Dzar Al-Ghifaari dan hadits no. 138 riwayat Malik bin Sha’sha’ah. Yang terdapat dalam kitab hadits “SHAHIH MUSLIM” dan di dalam kitab hadits “SHAHIH BUKHARI” Cetakan Ketigabelas 1992, diterbitkan oleh Penerbit ”Widjaya” Jakarta. Jilid I, Hadits no. 211 riwayat Anas bin Malik.Hadits adalah BERTENTANGAN DENGAN AL-QURAN.
Allahumma shali ala muhammad wa ala aly muhammad
tulisan ini tidak bermaksud mendeskriditkan ulama yang sudah banyak berperan dalam syiar Islam namun mencoba untuk lebih mengedepankan Hakikat Islam dng tidak berfanatik Mazhab, aliran, bahkan ulama tertentu…
Hanyalah Quran yang tidak ada keraguan kebenaran didalamnya….
dan Marilah kita perpegang kepada hadist yang senafas dengan Al-Quran….